suaramuhammadiyah.id 

Salah Satu Arsitek Pancasila, Ki Bagus Hadikusumo Radikal?

SLEMAN, Suara Muhammadiyah-Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan Launching Film dan Seminar Nasional bertajuk ‘Jalan Juang Ki Bagus Hadikusumo untuk Muhammadiyah dan Bangsa’ pada 30 November 2019. Kegiatan yang bertempat di Universitas Aisyiyah Yogyakarta tersebut menghadirkan narasumber Ahmad Syafii Maarif, Abdul Munir Mulkhan, dan Farid Setiawan.

Lahir dengan nama Raden Dayat (Hidayat), Ki Bagus Hadikusumo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2015. Peneliti sejarah Muhammadiyah Farid Setiawan menyebut Ki Bagus adalah salah satu anak dari Lurah Hasyim, yang memiliki 11 anak dan hampir semuanya menjadi tokoh pejuang di bidang masing-masing. Semisal Daniyalin (KH Sudja), Jazuli (Fachroddin), Dayat/Hidayat (Ki Bagus), H Zaini (kakek Muhammad Muqoddas, Siti Munjiyah, Siti Bariyah. “Mereka adalah generasi yang dididik langsung oleh Kiai Dahlan.”

Ki Bagus lahir pada Senin,  24 November 1890. “Menurut Djarnawi, perubahan nama R Dayat atau Hidayat menjadi Ki Bagus terjadi pada usia 30-an tahun (tahun 1921),” ujar Farid. Cucu Ki Bagus, Afnan Hadikusumo berpendapat lain, bahwa nama Ki Bagus diperoleh setelah pulang haji, karena kedekatannya dengan dua institusi penting di Yogyakarta. “Bagus” sebagai pemberian dari Kraton Yogyakarta, dan “Ki” diberikan oleh Taman Siswa.

Ki Bagus muda, kata Farid, memiliki jiwa seni yang tinggi, tergabung dalam stamboel kelompok saniwara/teater. Ki Bagus juga terlibat dalam pendirian KVC (persatuan sepak bola Kauman), yang kemudian berubah nama menjadi The Lion, dan cikal PS HW. Pendidikan agama diperoleh di rumah, SR (Sekolah Ongko Loro), nyantri di Wonokromo dan Pekalongan, serta nyantri pada Kiai Dahlan. “Ki Bagus canggih di Bahasa Arab, Belanda, Melayu, serta paham Bahasa Inggris. Beliau juga belajar sastra pada Raden Ngabehi Sastrosoegondo, penerjemah AD/ART Muhammadiyah.”

Farid menyebut Ki Bagus mewarisi tiga hal penting. Pertama, tradisi membaca, matanya sempat sakit karena membaca bermalam-malam. Kedua, tradisi menulis, padahal saat itu dakwah masih dilakukan secara lisan. Ki Bagus punga karya yang disusun secara sistematis dan konseptual. Ketiga, mendokumentasikan gagasan, sebagai kelanjutan tradisi menulis. Karyanya antara lain Poestaka Iman, Poestaka Islam, Poestaka Ihsan, Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin, Poestaka Hadi, Risalah Katresnan Djati. Ki Bagus adalah sosok pencari kebenaran hakiki.

Ki Bagus yang juga guru Madrasah Muallimat ini belum banyak diketahui. Farid menyebut bahwa Ki Bagus mewarisi nilai penting bagi para guru tentang keikhlasan. Meskipun mengajarkan keikhlasan, di tahun 1924, Muhammadiyah sudah membuat standar gaji guru Muhammadiyah. “Memberi apresiasi hak intelektual bagi guru, di saat ketika itu, ilmu dianggap tidak berhak diperjualbelikan,” ujarnya.

Selain alim di bidang ilmu agama, Ki Bagus juga mandiri. Beberapa kali membuka usaha dan gagal, sempat menjual piringan hitam, pengusaha batik, membuka toko obat, hingga jual gramaphone. Nilai integritas dan kemandirian ini pula yang ditanamkan pada keluarganya.

Farid menjabarkan bahwa Ki Bagus termasuk pribadi yang sangat disiplin menanamkan nilai pendidikan dalam keluarga. Berupa nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, kesederhanaan, dan kemandirian. “Ki Bagus menerapkan nilai dengan berkisah dan menunjukkan contoh. Pulang sekolah, anaknya disuruh bekerja.” Ki Bagus memikirkan perbaikan masyarakat, tidak egois memikirkan dirinya sendiri.

Sejarawan Abdul Munir Mulkhan menyebut bahwa Ki Bagus Hadikusumo mewarisi nilai penting tentang keterlibatan dalam pergumulan sosial. Pemimpin awal Muhammadiyah terlibat dalam pergulatan pembentukan negara. Otto Iskandar Dinata, Maria Ulfah, Ki Bagus, Kasman, dan lainnya semua terlibat aktif. Munir melihat peran aktif Muhammadiyah itu perlu diteruskan di masa sekarang.

Munir Mulkhan yang juga peneliti Syeh Siti Jenar menyebut bahwa karya-karya Ki Bagus semisal Poestaka Budi dan Poestaka Hati lebih condong ke bahasan tasawuf. Banyak bukunya berbicara tentang tasawuf yang selama ini Muhammadiyah dianggap abai pada dunia tasawuf.

Munir juga meluruskan fakta tentang statemen yang menyebut bahwa Ki Bagus itu seorang tokoh Islam radikal. Menurut Munir, Ki Bagus tidak radikal, dia idealis yang objektif. Proses sidang BPUPKI harus dilihat setiap tahapannya secara menyeluruh. “Jika dibaca sepotong, seolah Ki Bagus ingin negara Islam. Namun jika dilihat keseluruhan, Ki Bagus bertransformasi mendukung republik.” Realitas budaya umat Islam belum siap dengan pelembagaan hukum Islam yang ketat.

Ahmad Syafii Maarif menyatakan bahwa Ki Bagus punya bacaan yang luas. Ki Bagus mengusulkan konstitusi Islam bukan radikal, karena konstitusi saat itu masih dalam tahap pengumpulan gagasan dari berbagai kalangan. “Orang yang mengusulkan Islam (sebagai dasar negara) ketika itu diizinkan, karena belum ada konstitusi. Kalau sekarang, baru sumbu pendek. Jangan menilai masa lampau berdasarkan situasi sekarang. Lihat situasi saat itu,” ulas Buya Syafii yang menulis buku Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara.

Buya Syafii menyebut bahwa Ki Bagus termasuk di antara orang langka yang hidup tanpa ijazah. Kalimat itu dikutip dari karya sastrawan Ajib Rosyidi, Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan. “Ki Bagus itu belajar sendiri, tanpa ijazah. Yang penting adalah kemauan dari dalam untuk mengubah dirinya.”

Tanpa ijazah formal, Ki Bagus tenggelam dalam banyak bacaan. Selain Ki Bagus, ada tokoh semisal Hamka, Ajib Rosyidi, hingga Ali Audah yang sukses menjadi pemikir besar. Hal ini dianggap penting untuk diwariskan oleh generasi muda. “Membaca buku itu perlu, tidak cukup membaca di Google.”

Berkaca dari peran besar Ki Bagus sebagai penentu republik, Buya Syafii mengajak Muhammadiyah merefleksikan diri. “Muhammadiyah sudah 107 tahun berhasil sekali sebagai gerakan pembantu negara, tapi belum penentu.” Dahulu, sempat ada partai yang digawangi aktivis Muhammadiyah yaitu Masyumi. “Jika Masyumi tidak bubar, demokrasi kita tidak seperti ini. Secara moral etika, Masyumi tidak ada duanya. Meskipun saya juga mengkritik Masyumi.”

Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti mengapresiasi film dan seminar tentang Pahlawan Nasional Ki Bagus Hadikusumo. Warsiti berharap generasi muda bangsa bisa meneladani kiprah dan perjuangan mantan ketua PB Muhammadiyah tersebut.

Ketua Majelis Dikdasmen Suwadi menyebut bahwa event ini merupakan wujud kerjasama  Dikdasmen Sleman dengan Kemendikbud. Kegiatan ini dimulai dengan ajang Festival Ki Bagus Hadikusumo, berupa mading, membaca berita, hingga mading tiga dimensi. Film diharapkan menjadi media penyemaian nilai karakter dan inspirasi. Terutama karakter kesederhanaan dan keikhlasan berjuang untuk bangsa.

Tim produksi film Fani menyebut bahwa film Ki Bagus berdurasi 22 menit ini merupakan pemadatan dari 600 menit wawancara. Ada banyak bahan dan data yang tidak bisa dimasukkan ke film. Menurutnya, kaum milenial banyak memperoleh pengetahuan dari film, sehingga Muhammadiyah diharapkan ikut terlibat memberikan alternatif edukasi melalui film dan video. (ribas)

Related posts

Leave a Comment