muhammadiyah.or.id 

Mencoba Menjadi Haedar Nashir

Oleh: Ilham Ibrahim

Saya terlalu munafik untuk menulis hal tentang hidup saya pribadi. Karena menurut saya, kehiduan pribadi saya bukanlah prosa yang menarik buat diceritakan dan menjadi konsumsi publik, meskipun saya bisa sangat cerewet kalau sedang tinggi-tingginya mood curhat. Berhubung hormon saya dengan berada di titik kulminasi, saya akan bercerita sesuatu yang mungkin pembaca sekalian dapat mengambil seuprit hikmah dari tulisan ini.

Berimajinasi menjadi orang lain menurut saya merupakan ajang piknik bagi jiwa yang sedang bosan menjadi diri sendiri. Saya pernah membayangkan diri saya menjadi Bill Gates yang memiliki kekayaan melimpah ruah. Kekayaan yang mungkin takan pernah habis sampai kiamat kubro sekalipun. Setelah Bill Gates, entah kenapa imajinasi saya terbang menjadi Neil Amstrong. Sewaktu membayangkan jadi Amstrong, saya akan berjalan di bulan dan menuliskan nama seseorang yang saya cintai untuk sekadar merealisasikan idiom “I love you to the moon and back”.

Kepala saya juga pernah berimajinasi menjadi salah satu panutan hidup saya, Haedar Nashir. Jika menjadi Bill Gates atau Neil Amstrong hanya menarik dalam pusaran kepala saja, menjadi Haedar Nashir tidak hanya berputar di alam imajinasi, namun sudah mencapai level praktis dalam kehidupan saya sehari-hari. Bukan, bukan aktivitasnya sebagai Ketua Umum Persyarikatan Muhammadiyah yang harus berkunjung ke berbagai tempat, melainkan aktivitas pribadi Haedar Nashir yang paling masuk akal untuk saya tiru seperti membaca, menulis dan berpikir.

Haedar Nashir merupakan salah satu manusia yang paling kutu buku di Indonesia. Dalam setiap ceramahnya di berbagai tempat, sekurang-kurangnya beliau pasti mengutip satu-dua buku menjadi rujukan. Dalam derap langkah menahkodai persyarikatan Muhammadiyah, dirinya bisa membaca buku di mana pun dan kapan pun: bisa di gerbong kereta saat matahari dalam senja, di ketinggian pesawat dalam pelukan gelap malam, atau di dalam bis saat cahaya matahari begitu panas.

Saat perjalanan pulang ke Garut akhir tahun kemarin, saya pernah mencoba melakukan aktivitas Haedar Nashir, yaitu membaca di dalam bis. Saya membawa buku yang cukup berat, judulnya Guns, Germs, and Steel karya Jared Diamond. Karena saya pikir, untuk menjadi seorang Haedar Nashir, otak saya yang tumpul ini harus mendapatkan asupan giziyang maksimal. Satu halaman saya lewati dengan tenang. Halaman kedua kepala saya mulai pusing. Halaman ketiga saya sudah tak sadarkan diri. Tidur pulas sampai akhirnya saya benar-benar tidak membaca.

Setelah percobaan membaca di dalam bis gagal total, akhirnya saya mencoba kebiasaan Haedar Nashir yang lain yaitu: menulis. Haedar Nashir merupakan salah satu manusia Indonesia yang paling produktif dalam menghasilkan karya tulis. Beliau bisa menyusun buku yang padat referensi, menulis makalah ilmiah untuk jurnal internasional, dan menggarap artikel reflektif di Suara Muhammadiyah. Dalam kesibukannya sebagai pimpinan tertinggi persyarikatan Muhammadiyah, beliau menjadikan terminal bis, stasiun kereta, dan bandara pesawat sebagai ruang pribadi untuk menumpahkan isi pikirannya.

Sewaktu saya hendak bertolak ke Malang dalam misi liburan awal tahun, saya punya kesempatan lagi untuk menjadi Haedar Nashir, yaitu: menulis di stasiun kereta. Sengaja saya datang ke stasiun dua jam sebelum kereta tiba. Tanpa pikir panjang, saya membuka laptop dan memulai menulis, tetiba saya seperti kesurupan, merasakan roh Haedar Nashir masuk dan menyatu dengan jiwa saya. Namun sekian menit kemudian semuanya memudar saat handphone saya berbunyi menerima notifikasi dari youtube. Keasyikan nonton vlog seorang youtuber terkenal, saya memutuskan untuk menutup laptop, dan tak menulis satu paragraf pun.

Percobaan kedua menjadi Haedar Nashir gagal total, lanjut mempraktekkan apa yang sering dilakukan beliau, yaitu: berpikir. Pengukuhan Haedar Nashir menjadi seorang Guru Besar tentu tidak lain lantaran beliau memiliki pemikiran yang matang nan mengagumkan. Pemikiran Haedar Nashir tentang pentingnya mengedepankan moderasi (wasathiyyah) sebagai solusi dari ancaman radikalisme agama, menurut beberapa pengamat dipandang tepat, daripadi kampanye deradikalisme seperti yang dilakukan pemerintah.

Aktivitas Haedar Nashir yang satu ini, yaitu berpikir, mungkin menjadi perilaku beliau yang paling mudah saya tiru. Meski saya jarang membaca dan menulis, tapi saya sering berpikir tentang segala hal. Akhirnya setelah saya berpikir melalang buana ke sana, ke mari, dan tertawa, voila! Saya punya kesimpulan khusus agar menjadi Haedar Nashir seutuhnya, yaitu: saya harus jadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Itu dia!

*Penulis merupakan alumni PUTM

Related posts

Leave a Comment