suaramuhammadiyah.id 

Kaum Putri Muhammadiyah Membela Bangsanya di Zaman Perang

Oleh: Muhammad Yuanda Zara

Salah satu periode paling krusial dalam sejarah Indonesia modern adalah paroh pertama tahun 1940an. Ada banyak peristiwa penting terjadi baik di Indonesia maupun di luar negeri, yang kemudian sangat menentukan bagi perjalanan sejarah Indonesia. Di Eropa, Blok Poros (yang bersekutu dengan Jepang di Asia) sejak Juni 1941 berusaha untuk menduduki Uni Soviet. Jepang sendiri, sebagai kekuatan imperialis baru, berupaya menguasai tetangga besarnya, Cina, sejak akhir era 1930an. Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang mengebom pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Pearl Harbor, Hawaii. Bagian Asia dan Pasifik lainnya masuk ke dalam target penaklukan Jepang. Indonesia, dengan demikian, tinggal menunggu waktu.

Kekhawatiran akan kemungkinan serbuan Jepang ke Indonesia sangat terasa di tengah publik Indonesia di awal tahun 1940an. Dari berbagai buku sejarah, cukup banyak yang kita ketahui tentang bagaimana kemudian Jepang masuk dan berkuasa di Indonesia. Ini mencakup pula upaya-upaya Jepang untuk memobilisasi masyarakat Indonesia melalui berbagai organisasi yang didirikannya. Kekejaman Jepang terhadap masyarakat Indonesia juga telah diulas dalam banyak kajian.

Namun, tampaknya masih banyak yang belum mengetahui tentang bagaimana respon warga Muhammadiyah, khususnya kaum putrinya, pada kemungkinan serbuan Jepang ke Indonesia. Bagaimana pemahaman kaum putri Muhammadiyah terhadap konstelasi konflik global dan potensi pengaruhnya ke Indonesia? Apa pandangan kaum putri Muhammadiyah terhadap nasib bangsa Indonesia di hadapan serbuan bangsa asing (Jepang)? Bagaimana kaum putri Muhammadiyah mengajak saudara sebangsanya untuk bisa menyelamatkan diri dari kekejaman perang?

Kaum putri Muhammadiyah sebenarnya memiliki pengetahuan yang cukup mendalam perihal dinamika politik global pada dekade 1930an dan awal 1940an. Ini tampak dari pandangan-pandangan mereka yang terekam dalam majalah kaum putrinya Muhammadiyah, Soeara ‘Aisjijah. Salah satunya di edisi 2, 16 Februari 1942. Mereka memakai sumber dalam dan luar negeri dalam memahami gejolak politik dunia. Ini memperlihatkan luasnya akses informasi kaum putri Muhammadiyah dalam memahami persoalan dunia. Sumber-sumber tersebut mencakup surat kabar Tjaja Timoer (yang mengambil berita dari Singapore Free Press), Reuterhingga kantor berita Belanda, Aneta.

Di Soeara ‘Aisjijah edisi 2, 16 Februari 1942

Related posts

Leave a Comment